Perkuat Literasi Nasional, Kemendikdasmen Fokus pada Pendidikan Berbasis Pemberdayaan Perempuan
Mendidik laki-laki itu mendidik individu, tapi mendidik perempuan itu menyelamatkan satu generasi. Kalimat ini bukan sekadar kiasan. Di tangan perempuan yang literat, peradaban punya arah. Inilah mengapa Kemendikdasmen kini mengalihkan fokusnya: memerangi buta aksara mulai dari perempuan. Karena saat seorang ibu bisa membaca dunia, ia akan memastikan anak-anaknya tidak akan pernah buta terhadap masa depan.
Kenapa perempuan harus menjadi pusat fokus?
Perempuan kerap menjadi pusat informasi dalam keluarga. Ketika perempuan memiliki kemampuan literasi yang baik, ilmu tidak hanya akan berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan tersebut dapat turun. Entah ke keluarga atau lingkungan
Literasi di sini bukan lagi sekadar soal bisa membaca atau menulis, tapi tentang keberdayaan.
Memang banyak perempuan dengan prestasi di sekitar kita, tapi tantangan muncul ketika sudah memasuki dunia kerja, karena budaya patriarki yang menjamur masih jadi penghalang.
Lebih dari Sekadar Seremoni April-an
Dalam pertemuan koordinasi baru-baru ini, Badan Bahasa Kemendikdasmen menekankan satu hal penting. Senada dengan masalah ini, Kemendikdasmen ingin mengubah cara memaknai Hari Kartini. Kini Hari Kartini jadi ajang pakai kebaya atau sanggul yang sifatnya seremonial saja.
Wardiman Djojonegoro, sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan, sempat mengingatkan bahwa “kunci” yang ditulis Kartini 140 tahun lalu tetap sama, yaitu pendidikan. Tanpa itu, perempuan sulit untuk masuk ke level strategis, entah jadi manajer atau direktur. Ini bukan soal perempuan mau menggantikan laki-laki, tapi soal memberi mereka bekal yang setara agar bisa mandiri.
Tantangan Nyata di Lapangan
Menurut Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Ruspita meski secara akademik anak perempuan sering kali lebih juara dan rajin di kelas, tantangannya muncul saat masuk ke dunia kerja. Budaya patriarki kadang masih jadi penghalang. Makanya, lewat program seperti "Aku Bisa Jadi Apa Saja", pemerintah ingin anak-anak perempuan berani bermimpi tanpa batas.
Langkah Kecil yang Berdampak Besar
- Integrasi Gerakan: ke depan, pemberdayaan ini bukan lagi proyek sektoral yang jalan sendiri-sendiri, melainkan gerakan terpadu yang saling menguatkan.
- Literasi yang Relevan: menyediakan bahan bacaan yang punya "napas" perempuan, agar literasi bukan cuma soal mengeja, tapi soal memahami identitas.
- Dialog Lintas Generasi: mengajak anak muda untuk kembali "berdiskusi" melalui surat-surat Kartini. Tujuannya: membedah pemikirannya agar relevan dengan tantangan zaman sekarang, bukan sekadar jadi arsip masa lalu.
- Amplifikasi Suara Daerah: menggerakkan seluruh unit di berbagai wilayah untuk lebih vokal di media massa. Agar narasi pemberdayaan ini bergema kuat, dari pusat hingga ke pelosok.
Intinya, literasi harus menjadi "senjata" bagi perempuan. Saat perempuan berdaya karena pendidikan, dia tidak hanya membangun dirinya sendiri, tapi sedang mengangkat martabat seluruh keluarganya dan, tentu saja, bangsa Indonesia.